Mengembangkan Kecerdasan Intelektual, Emosional, Spiritual, dan Sosial

By | July 12, 2012

Setiap siswa dilahirkan dengan berbagai potensi kecerdasan. Pada saat awal kehidupan manusia, otak berkembang melalui proses belajar alamiah dengan kecepatan tiga milyar sambungan per detik, termasuk 100 miliar sel saraf aktif atau neuron, dan 900 miliar sel lain yang merekatkan, memelihara, dan menyelubungi sel aktif. Dalam setiap otak manusia terdapat berbagai potensi yang menunggu untuk dikembangkan dalam beberapa atau satu jenis keunggulan karena tidak ada satupun yang bisa menguasai seluruh potensi.

Namun demikian, potensi yang begitu besar ini tidak begitu saja dapat dimanfaatkan dengan optimal. Ia membutuhkan suasana dan kondisi yang mendukung dan dengan berbagai pendekatan yang berbeda maka otak akan mampu berkembang sesuai dengan keunggulan yang dimiliknya. Inilah yang ditemukan oleh Gardner pada tahun 1980-an dan melahirkan teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) yang ia publikasikan pada tahun 1990-an. Teori ini memungkinkan kita untuk menjadi cerdas dengan memanfaatkan kelebihan salah satu kecerdasan kita. Bahkan, menurut penulis buku Anak Ajaib. Andyda Meliala, teori kecerdasan majemuk dapat meramalkan dan membantu anak untuk menjadi sukses di kehidupan masa depannya.

Mengembangkan Kecerdasan Intelektual, Emosional, Spiritual, dan Sosial

Mengembangkan Kecerdasan Intelektual, Emosional, Spiritual, dan Sosial

Menurut teori kecerdasan majemuk, materi apa pun dapat dipelajari siswa dengan syarat, materi tersebut disampaikan dengan menggunakan metode yang sesuai dengan inteligensi yang menonjol pada siswa tersebut. Oleh karenanya, proses KBM seharunya dapat mengakomodir terciptanya dan berkembangnya ragam potensi kecerdasan siswa melalui berbagai pendekatan pengajaran yang digunakan. Proses pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya mengarahkan pada kecerdasan intelektual semata. Proses belajar harus bisa mewadahi dan mengarahkan perkembangan segala macam kecerdasan siswa.

Pemahaman siswa ketika terjadi peristiwa belajar terhadap sesuatu, akan lebih baik bila ia berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.

KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain yang bersangkutan. Dengan demikian, KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan pendapat, perbedaan sikap, perbedaan kemampuan, perbedaan prestasi dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan tindakan di lingkungan sosialnya.

Bersambung ke bagian 4 >> klik Belajar Sepanjang Hayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *