Evaluasi Hasil Belajar: Refleksi Keberhasilan Proses Belajar Mengajar

By | January 3, 2013

Salah satu tugas guru dalam melakukan aktivitas belajar mengajar adalah melakukan evaluasi hasil belajar. Aktivitas ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Untuk itu, dalam melakukan evaluasi hasil belajar, seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menantukan cara-cara evaluasi, mulai dari pendekatannya, penyusunan alat evaluasi dan cara pengolahannya, serta mempergunakan hasil evaluasi belajar tersebut.
Sebagaimana diketahui bersama, proses pembelajaran merupakan sebuah sistem yang memiliki komponen saling bertautan dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Dalam setiap pembelajaran, seorang guru harus memiliki gambaran tentang tingkat keberhasilan aktivitas belajar mengajar yang dilakukan. Salah satu cara untuk mengetahui tingkat keberhasilan itu adalah dengan melakukan evaluasi hasil belajar yang meliputi evaluasi proses dan evaluasi produk pembelajaran.

Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi Hasil Belajar

Yang kemudian sering dipertanyakan guru adalah apakah evaluasi sama halnya dengan penilaian? Sekilas memang tampak sama. Namun, evaluasi memiliki arti dan cakupan yang lebih luas dibanding penilaian. Karena penilaian merupakan salah satu aspek yang terdapat dalam evaluasi. Dalam melakukan aktivitas belajar mengajar, akan menjadi sangat penting bagi guru untuk mengetahui hasil dari pekerjaannya. Guru tentu ingin mengetahui sejauh mana peserta didik menyerap dan memahami materi yang disampaikan. Demikian pula sebaliknya, peserta didik pun tentu ingin mengetahui sejauh mana penguasaan dan pemahaman atas materi yang telah diajarkan.
Keingintahuan guru dan peserta didik tersebut hanya mungkin diketahui jika seorang guru telah melakukan evaluasi hasil belajar. Sebelum memulai evaluasi, guru diharuskan melakukan penilaian dengan cara mengukur hasil belajar. Pengukuran ini dilakukan dengan pengumpulan informasi yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk skor atau angka.
Setelah hasil pengukuran dan penilaian diperoleh, barulah guru bisa melakukan evaluasi hasil belajar dan membuat keputusan yang tepat. Sebagaimana diulas di atas, banyak guru yang menganggap penilaian dan evaluasi ini adalah sama. Padahal, evaluasi memiliki peranan yang lebih penting dibanding dengan penilaian. Dengan adanya evaluasi hasil belajar, seorang guru dapat membuat keputusan tentang banyak hal. Misalnya keputusan untuk menentukan kelulusan peserta didik, penjurusan peserta didik, ataupun keputusan untuk memperbaiki program belajar yang dirasa masih kurang.
Dengan demikian, dapat ditarik sebuah simpulan bahwa evaluasi hasil belajar merupakan rangkaian proses yang dilakukan guru guna mendapatkan data tentang proses belajar yang dilakukan secara kontinyu. Data yang diperoleh tersebut kemudian akan dianalisis sehingga menjadi sebuah informasi yang berarti dalam pengambilan sebuah keputusan. Dengan begitu, dalam evaluasi sudah tercakup pula penilaian dan pengukuran, meskipun alat untuk evaluasi itu sendiri seringkali disebut dengan alat penilaian.
Lantas, bagaimana cara atau pendekatan yang bisa dilakukan guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar? Untuk melakukan evaluasi hasil belajar, guru dapat menggunakan Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan. Penilaian Aturan Norma (PAN) merupakan cara penilaian yang dilakukan dengan mengetahui kedudukan hasil belajar yang dicapai berdasarkan norma kelas. Jadi, PAN adalah cara penilaian yang tidak semata-mata bergantung kepada jumlah soal yang diberikan. Peserta didik dengan skor terbesar adalah yang memiliki kedudukan tertinggi di kelasnya.
Sementara itu, Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah cara penilaian yang sangat bergantung pada soal-soal tes yang dikuasai oleh siswa. Nilai tertinggi di kelas akan terlihat dari seberapa banyak jumlah soal yang dapat dijawab dengan tepat oleh peserta didik. Dengan begitu, dalam PAP ini biasanya akan ada batas lulus atau passing grade. Lulus tidaknya siswa akan didasarkan pada pencapaian passing grade yang telah ditetapkan.
Setelah menentukan cara dan pendekatan untuk melakukan evaluasi hasil belajar, kemampuan selanjutnya yang harus dikuasai guru adalah penyusunan alat evaluasi. Sebagian besar guru biasanya menggunakan alat evaluasi hasil belajar berupa tes lisan, tes tertulis, dan tes perbuatan. Penggunaan alat tes tersebut dapat guru sesuaikan dengan materi yang diajarkan. Adapun bentuk tes tertulis yang kerap digunakan guru untuk melakukan evaluasi adalah dengan memberikan pertanyaan atau soal dalam bentuk menjodohkan, benar/salah, pilihan ganda, melengkapi soal, dan jawaban singkat.

Dalam membuat alat evaluasi hasil belajar berupa soal objektif atau uraian, hendaknya guru memerhatikan hal penting berikut ini.

a. Soal Bentuk Menjodohkan

  • Butir alternative jawaban harus dibuat lebih banyak
  • Jumlah maksimal butir soal adalah 5 dan jumlah maksimal butir alternatif jawaban adalah 7.
  • Butir soal dan butir alternatif jawaban diusahakan tentang hal yang homogen.

b. Soal Bentuk Benar-Salah

  • Usahakan agar jumlah kunci jawaban yang benar (B) dan yang Salah (S) itu seimbang.
  • Agar dapat mnemenuhi validitas isi, usahakan jumlah soal yang dibuat lebih dari 50 butir soal.
  • Sebaiknya menghindari pernyataan yang kompleks atau terlalu umum.
  • Hindari pula kata-kata yang bermakna tidak tentu, seperti umumnya, biasanya, dll.

c. Soal bentuk pilihan ganda

  • Memenuhi kualitas dari aspek konstruksi; pertanyaan tidak boleh menjebak siswa, harus tegas, dan tidak menggunakan kalimat negatif.
  • Memenuhi kualitas dari aspek bahasa: pertanyaan harus komunikatif, artinya menggunakan bahasa umum yang baku dan tidak ambigu atau memiliki penafsiran ganda.
  • Tidak boleh menggunakan petunjuk dengan menggunakan kata “paling benar”, karena soal pilihan ganda tidak mengenal gradasi kebenaran.
  • Kalimat dalam soal harus lebih panjang daripada kalimat pada pilihan jawaban.
  • Panjang pilihan jawaban homogen.
  • Pola kunci jawaban jangan dibuat teratur atau sistematis.

d. Soal uraian

  • membuat pedoman penskoran.
  • Penskoran dilakukan pada setiap langkah pengerjaan.
  • Bobot skor ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan butir instrumen.
  • Soal yang teoretis harus memiliki kata kunci yang harus ada dalam jawaban peserta didik.
  • Dalam mengoreksi jawaban, identitas siswa sebaiknya ditutupi agar tidak ada kecenderungan subjektivitas.

Nah, demikianlah pembahasan mengenai evaluasi hasil belajar ini. Semoga apa-apa yang dibahas dalam artikel ini dapat memberikan manfaat kepada setiap pembaca, terutama guru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *